Selasa, 17 September 2019


     KAMPUNG HALAMANKU
Kampung halamanku,sebuah desa bernama Kuala Dua yang sangat luas wilayahnya.Bahkan ia termasuk desa yang paling luas di Kabupaten Kubu Raya.Desa dengan semilir angin syahdu yang membuat siapa saja kembali tertidur karena alunan angin yang membangkitkan rasa kantuknya.Desaku sudah sangat tua tapi pemikiran-pemikiran orang didalamnya tidak pernah tua.Di desa itulah aku menghabiskan masa kecilku mulai dari sekolah,mengaji,dan masih banyak lagi.Desaku berada di dekat anak sungai Kapuas,jadi tak jarang kami pergi ke sungai untuk mandi ataupun hanya untuk mengambil ale-ale di sungai.Nantinya ale-ale tersebut akan kami bakar menggunakan kayu api sebagai penambah rasa biasanya kami tambahkan garam dan jeruk nipis.Hemmm,jadi pengen kembali ke masa-masa kecilJ
Bermain kano di danau Hoce,desa Kuala Dua

Tak jarang banyak tamu-tamu dari luar Kabupaten yang datang untuk bersosialisasi ke desa kami.Dari sosialisasi tersebut,mulailah berkembang kreativitas dan rasa kepedulian warga akan desa.Para bapak-bapak mendirikan Perkumpulan Pemuda Melayu yang sekarang dikenal dengan nama Khair Barakah untuk membantu memecahkan permasalahan didesa.Tak hanya itu,mereka juga bergerak di bidang keagamaan dan sosial.Mereka mengadakan acara keagamaan seperti,santunan kepada anak yatim dan piatu,yasinan,dan masih banyak lagi.Melihat antusias bapak-bapak di desa kami,ibu-ibu pun tak mau kalah ambil bagian.Mereka membuat kelompok qasidah dan anggota khusus untuk memasak saat acara perkawinan.

Setiap tahun saat ada perlombaan qasidah,mereka selalu turut serta.Sedangkan anggota khusus memasak,mereka akan sibuk saat musim-musim pengantin baru.Mereka menyiapkan makanan,bahkan biasanya mereka juga membuka penyewaan alat-alat lainnya.Desa kami memang kalah dalam urusan keindahan,tapi solidaritas masyarakatnya jangan diragukan.Akhir pekan ini,desa kami mengadakan turnamen sepak bola.Ini sudah kesekian kalinya diadakan lomba sepak bola.Ya,desa kami memang memiliki lapangan sepak bola khusus untuk bermain dan berlatih disana.
Namun desa kami tidak memiliki lembaga untuk belajar mengaji secara mendalam seperti,TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Dahulu,kami memiliki lembaga tersebut namun seiring berjalannya waktu TPA itu pun tutup karena keterbatasan biaya.Guru-guru tak sanggup mengajar dikarenakan gaji yang tidak mencukupi standar.Pekerjaan masyarakat di desa Kuala Dua ini memang kebanyakan bekerja sebagai buruh bangunan dan asisten rumah tangga.Hal tersebut,membuat anak-anak di lingkungan kami merasa terbatas dalam mengekspresikan diri mereka.Ingin mendapatkan ilmu namun terhambat biaya.
Jujur saja melihat semangat para bapak-bapak dan ibu-ibu di desaku aku terenyuh dan berinisiatif untuk ikut serta membangun desa ini.Aku mendirikan Rumah Belajar KUALA BERKAH untuk anak-anak di lingkunganku.Disana anak-anak diajarkan untuk menulis,membaca,menghitung.Beberapa hari yang lalu,terdapat mahasiswa-mahasiswi Kuliah Kerja Lapangan dari IAIN PONTIANAK yang melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Kuala Dua.Pada pagi harinya mereka membantu kegiatan belajar mengajar di MI SIRATUL JANNAH di dekat rumahku sedangkan setiap sorenya mereka akan mengajarkan membaca Al-Qur’an kepada anak-anak sd disekitaran lingkungan desa.Tujuannya ialah untuk memberikan ilmu agama secara bertahap dimulai dari mengaji bersama-sama,tata cara wudhu dan sholat,do’a sehari-hari,hingga mengajarkan hukum tajwid,rukun iman dan rukun islam.
Mahasiswa KKN mengajar di TPA

Pendidikan terhadap anak-anak sangat diperhatikan dalam Islam memandang bahwa setiap anak dilahirkan memiliki potensi tersendiri.Hal ini membuat desa kami terus bergerak untuk memajukan kesejahteraan anak-anak di desa dengan menggali potensi-potensi mereka.Mulai dari membentuk organisasi remaja masjid,perkumpulan qasidah anak-anak,sanggar tari tradisional,dan sebagainya.Desaku memang tak seindah,tak semaju,dan tak secanggih desa lainnya.Namun,desaku tetaplah desaku.Disanalah aku tumbuh,mendapatkan pendidikan,pembelajaran,kepedulian,rasa empati,dan segala hal yang berguna untuk masa depan.Kita tahu bahwa membangun desa tak semudah membalikkan telapak tangan,namun dibalik itu,aku yakin ada orang-orang yang dengan semangatnya ingin menumbuhkan dan memajukan desaJ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar